Selasa, 21 Agustus 2018

KISAH THOMAS KISAH EMAS

Petikan isi buku KIAT SUKSES MENCARI DAN MENDAPATKAN BANYAK UANG karya H.M. Ambaldy Djuardi.

Bab I 

C. KISAH THOMAS KISAH EMAS 

(Halaman 51 – 61) 

Jika Anda pernah mengikuti seminar motivasi atau membaca buku-buku motivasi, mungkin pernah tahu kisah yang satu ini. Begitupun saya. Seting kisahnya memang terjadi di belahan dunia lain, tetapi bagus sekali untuk kita jadikan cermin. Anda ingin tahu? Baiklah, saya akan mengisahkannya kembali dengan mengadaptasinya secara bebas, setelah yang satu ini.

Contact person: 
Sms/WA: 081808081555 
email: ambaldydjuardi@gmail.com 

THOMAS ADALAH ANAK DESA, anak seorang petani miskin. Ia sudah terbiasa rajin bekerja sejak kecil, membantu orangtuanya. Thomas punya keinginan yang besar, ingin merantau dan menjadi orang sukses. Tetapi ayah dan ibunya berkeberatan.

 “Bukan kami melarangmu merantau ke kota, tapi cobalah pikirkan sekali lagi. Bukankah di desa ini pun sudah cukup baik. Walaupun kita miskin, namun tidak pernah kekurangan makan,” kata ayahnya.

“Tetapi bukankah Ayah dan Ibu melihat sendiri, teman-teman di sini banyak yang merantau ke kota dan bila pulang mereka selalu membawa uang yang banyak?”

“Jadi, kamu ingin seperti mereka?”

“Bukan, tapi saya ingin jauh lebih kaya daripada mereka. Saya tidak akan pulang kampung sebelum saya jadi orang kaya.”

 “Tetapi bekalmu untuk hidup di kota itu apa? Mereka anak-anak yang punya ijazah, sedangkan kamu jangankan ijazah, sekolah pun tak pernah. Ayah merasa sedih karena selama ini tak bisa membekalimu dengan pendidikan sekolah.”

“Itulah, anakku,” tambah ibunya. ”Jadi wajar kan, kalau ayahmu merasa khawatir?”

“Tenang Ayah... tenang Ibu, dan Ayah tak usah bersedih. Selama ini Ayah dan Ibu telah memberikan pendidikan yang mahal kepada saya, walaupun saya tidak bersekolah. Ayah dan Ibu tidak usah khawatir, saya pasti bisa membawa diri.”

“Tetapi Thomas, kamu harus ingat, di kota tidak ada tempat bagi orang yang buta hurup seperti kamu.”

THOMAS TETAP PADA TEKADNYA. Tidak ada lagi yang bisa mencegahnya pergi meraih cita-cita. Pagi-pagi sekali Thomas kabur, meninggalkan desanya, pergi ke kota tanpa bekal uang sepeser pun, selain satu-satunya harta yang selama ini paling beharga baginya, yaitu sebuah cangkul yang kini pun selalu dipikul di pundaknya. Ia tidak mau menumpang kendaraan umum tanpa membayar. Thomas berjalan kaki, tak peduli berapa pun jauhnya. Semangat yang tinggi telah mengenyahkan rasa lelahnya. Namun menjelang tengah hari, ia pun mulai merasa lapar.

Thomas menghampiri sebuah rumah besar dan bagus di pinggir jalan. Ia menilai, keindahan rumah itu sangat terganggu karena lahan kecil di depannya tidak terawat. Thomas segera menekan bel di pintu pagar, dan keluarlah seorang pembantu serta seorang nenek. Thomas langsung mengutarakan maksudnya. “Saya Thomas, anak desa. Saya bermaksud menawarkan jasa untuk membersihkan alang-alang di depan rumah ini, sehingga keindahan rumah Nyonya tidak terganggu lagi olehnya. Saya ingin ke kota tapi tidak punya bekal, dan saya hanya perlu sepiring nasi.” Thomas berkata-kata dengan santun namun bersemangat. Thomas dipersilahkan masuk. Mereka duduk di teras.

Tidak lama kemudian pembantu menyuguhkan minum dan makan. “Silahkan makan, Thomas,” kata nenek itu sambil tersenyum ramah. “Terimakasih, tapi saya mau bekerja dulu, setelah selesai nanti baru saya akan makan,” jawab Thomas yang langsung beranjak membersihkan alang-alang di depan rumah, di luar pekarangan. Sebuah mobil datang.

Seorang wanita muda memperhatikan Thomas dari dalam mobil, sebentar, lalu mobil pun masuk pekarangan. Dialah nyonya rumah itu. Kini lihatlah, pemandangan di depan rumah tersebut terlihat demikian rapi. Pekerjaan sudah selesai, Thomas pun makan dengan lahap. Ia tidak tahu sedang diperhatikan oleh tiga orang dari dalam rumah. Ia juga tidak menyadari, sejumlah butir-butir nasi menempel menghiasi bagian wajahnya sekitar mulut, meski begitu ia tahu, saat sedang makan itu keringat dari wajahnya sempat menetes beberapa kali. Ketika Thomas selesai makan dan mengusap wajahnya dengan saputangan, nyonya rumah dan ibunya keluar. Terus terang, mereka sangat terkesan kepada Thomas.

Ketika Thomas pun menyatakan sekalian ingin merapikan bagian-bagian tertentu pada halaman rumah itu, mereka langsung setuju. Wahai, lihatlah; Thomas baru saja memberikan yang terbaik (atau setengah baik) kepada orang yang baru dikenalnya. Dan orang yang baru dikenalnya itu pun memberikan yang, mungkin bagi orang kaya itu hanya sekedarnya saja, namun Thomas merasakannya pemberian itu adalah sangat baik baginya.

Thomas telah menyelamatkan perutnya hari ini, bukan dengan meminta tetapi memberi. Bahkan bukan hanya itu. Bahkan Thomas juga memperoleh sejumlah uang. Bahkan Thomas pun diminta menginap barang semalam di rumah gedong itu, tetapi Thomas tidak berkenan.

Ia melanjutkan perjalanan ke kota dengan tetap menempatkan diri sebagai Thomas apa adanya. Tetap berjalan kaki, dan memilih tidur di pos hansip atau di pos polisi. Begitulah Thomas, ia berjalan kaki berhari-hari tanpa sedikit pun mengeluh. Betul! Tanpa sedikit pun mengeluh. Semua dijalaninya dengan riang hati dan penuh harapan. Maka segala sesuatu yang terjadi atas dirinya tidak disikapinya sebagai penderitaan, melainkan ya memang begitulah adanya.

Thomas lalu, meskipun dari desa hanya berbekal sebuah cangkul, namun sesampai di kota ia malah sudah memiliki sejumlah uang. Semua ia dapatkan bukan dengan meminta, melainkan dengan saling memberi. THOMAS MELAMAR MENJADI PELAYAN DI SEBUAH TOKO. Dengan “modal nekad”, ia masuki sebuah toko itu, lalu menyatakan keinginannya bekerja di situ. “Saya yakin Anda bisa bekerja dengan baik, tetapi sayang sekali Anda buta huruf. Jadi terpaksa sekali kami tidak bisa menerima Anda,” kata manajer toko.

Thomas merasa kecewa, namun ia tak mau bersedih. Satu toko menolak, tapi di sepanjang jalan itu terdapat ratusan toko. Salah satu diantaranya niscaya mau menerimanya bekerja. Begitulah keyakinan Thomas. Lalu ia keluar masuk toko-toko mencari pekerjaan, namun yang selalu ditanyakan pada Thomas adalah soal ijazah sekolah. Memang belum seratus toko ia masuki, dan semua menolaknya bekerja di situ karena Thomas tidak memiliki ijazah sekolah, maka cukup alasan bagi Thomas untuk tidak lagi mengikuti keinginannya menjadi pelayan toko di kota.

Menjelang senja, ia mampir ke sebuah gereja. Ingin sekali bersembahyang di sini, dan bila mungkin akan numpang tidur pula barang semalam. Thomas berbincang-bincang dengan seorang tukang kebun dan sekaligus pesuruh gereja itu. Rupanya mereka berasal dari desa yang sama, tetapi kampungnya berjauhan. “Boleh aku ikut bekerja di sini?” tanya Thomas. “Nanti aku bilang pada Bapak Pendeta. Beberapa hari yang lalu beliau memang menyuruh aku mencari tenaga baru untuk tukang kebun. Maksudnya agar kerjaku tidak terlalu berat,” kata temannya.

Namun ternyata, lagi-lagi Thomas ditolak bekerja di kota, walaupun hanya untuk “jabatan” tukang kebun sekalipun, karena buta huruf. Untunglah, Bapak Pendeta mencarikan jalan keluar. Thomas diberi “memo” untuk disampaikan pada salah seorang jemaat yang kebetulan tengah menangani pembangunan sebuah hotel tak begitu jauh dari situ.

Thomas diterima bekerja sebagai kenek tukang batu. Ia bekerja dengan tekun dan giat. Memberi lebih daripada yang diminta pemberi pekerjaan; itulah yang ada dalam pemikirannya. Thomas hebat, prinsipnya pun kuat. Jika menerima honor mingguan, teman-temannya berfoya-foya, Thomas tidak ikut-ikutan. Jika teman-temannya merokok, makan enak berlebih-lebihan, Thomas tetap menahan diri. Ada yang pergi “pelesiran”, ada yang main judi, Thomas malah buru-buru menemui Bapak Pendeta untuk menitipkan uangnya.

Suatu ketika pekerjaan pembangunan hotel yang melibatkan dirinya sebagai tenaga kasar sudah selesai. Thomas jalan-jalan ke sebuah pasar. Ia sangat terkesan melihat seorang pedagang kakilima yang menjual peralatan rumah tangga seperti barang-barang pecah belah, panci-panci, penggorengan, keset kaki, gayung, lap pel, dan sebagainya. Thomas terkesan, karena pedagang tersebut berjualan dengan cara yang lincah, banyak kata banyak gaya yang menarik, sehingga menarik pula bagi orang untuk membeli, dan dagangannya laris manis.

Dia pikir, enak sekali mencari uang dengan cara berdagang. Setelah sepi, Thomas mendekati pedagang itu. Ia tanya, berapa banyak keuntungan bisa diperolehnya setiap hari? Ternyata jauh lebih besar daripada penghasilannya sebagai kenek tukang batu. “Bagaimana caranya saya bisa ikut jualan seperti Anda?” tanya Thomas. “Kamu harus menemui bos.” “Mau kan, Anda memperkenalkan saya padanya?” “Boleh, tapi...” “Pasti akan aku perhitungkan jasamu sebagai tanda terimakasihku. Aku membawa sejumlah uang,” kata Thomas dengan penuh semangat.

Esok hari Thomas dipertemukan dengan bos pedagang itu. Ternyata, Thomas harus “menaruh” sejumlah uang jaminan. Bagi Thomas hal itu tak jadi masalah, sebab ia punya banyak uang yang ia titipkan pada Bapak Pendeta. Dalam waktu singkat, ia sudah menjadi seorang pedagang tanpa punya toko, banyak kawan di pasar itu, karena Thomas senang dan pandai bergaul.

Bukan hanya dengan sesama pedagang kakilima, tetapi juga dengan pedagang-pedagang yang memiliki toko. Bahkan Thomas juga bergaul dengan para salesman dan salesgirl perusahaan yang sering datang ke pasar tersebut. Dari sopir, pelaksana lapangan sampai manajernya, ia “gauli” dengan baik. Berkat cara bicara yang baik, Thomas pun bisa bergaul dengan baik. Ia banyak bertanya pada teman-temannya. Bertanya apa saja. Apalagi pada orang-orang yang lebih hebat, maka ia tak segan-segan berguru padanya.

Tekadnya sudah bulat, ingin meraih keberhasilan seperti pernah diucapkannya di hadapan ayah dan ibunya; harus bisa menjadi orang yang paling kaya di desa asalnya yang kini telah beberapa tahun ia tinggalkan. Thomas selalu bersemangat tinggi. Ia sangat lantang dan penuh gairah menawarkan dagangannya. Thomas tak pernah murung bila dagangannya hanya sedikit yang laku. Baginya itu soal biasa. Begitu pun bila dagangannya laris manis, ia tidak lalu kelewat bersuka-cita, apalagi berfoya-foya.

Akibatnya, Thomas menjadi pedagang kakilima yang sangat menonjol di pasar itu. Meskipun Thomas tidak pernah bersekolah, tetapi ia memiliki cara berbicara yang baik, cara bergaul yang baik, cara belajar yang baik dan cara berpikir yang baik. Itulah sebabnya ia sukses. Kini Thomas memang sudah kaya, namun dalam ukuran seorang pedagang kakilima. Masih bujangan, uangnya banyak. Ia masih menitipkan uangnya itu pada Bapak Pendeta.

Thomas, selalu saja ingin tahu. Akhirnya dia tahu pula di mana bosnya mengambil barang dagangan. Ternyata dalam perhitungannya, bosnya itu memperoleh keuntungan besar sekali. Padahal kerjanya cuma begitu-begitu saja; menampung barang-barang, menunggu pedagang-pedagang kecil datang sambil menaruh uang jaminan, dan tiap hari menerima pembayaran sambil menghitung-hitung keuntungan. Thomas mengeti, bosnya bisa begitu karena punya modal uang yang cukup besar. Bukan Thomas namanya kalau tidak selalu bergerak maju.

Dengan penuh percaya diri, ia temui bos yang lebih tinggi lagi. “Bagaimana kalau semua dagangan ini saya beli, dan selanjutnya Anda hanya menjual kepada saya?” kata Thomas tanpa ragu-ragu sedikit pun. “Kalau Anda memang siap uang, boleh saja. Mari saya tunjukkan data barang dan harganya.” “Boleh, saya akan segera membayarnya.” “Jadi betul Anda siap dengan uangnya?” “Tetapi saya tidak membawanya, sebab uang itu saya titipkan pada Bapak Pendeta. Nanti kita bersama-sama menghadap beliau,” jelas Thomas.

Jawaban Thomas itu menyenangkan bos tersebut. Ia merasa mendapat jaminan tambahan bekerja sama dengan Thomas. Namun terus terang masih ada keragu-raguan juga. Jangan-jangan Thomas cuma membual. Oleh karena itu justru ia merasa tak sabar, ingin segera membuktikannya. Mereka berdua menghadap Bapak Pendeta. Ternyata Thomas berkata yang sesungguhnya. Bos tersebut senang bekerja sama dengan Thomas. Maklumlah, pergaulannya makin luas dan makin tinggi pula.

Teman-teman baru Thomas pun kian banyak dari kalangan manajer dan direktur, serta tokoh-tokoh masyarakat. Hubungan mereka baik. Begitu pula dengan pejabat-pejabat pemerintah setempat, ia menjalin hubungan yang baik. Kini hubungan pergaulannya benar-benar sangat luas. Thomas berencana mendirikan pabrik panci. Sambutan dari berbagai pihak sangat membesarkan harapannya. Beberapa direktur dan manajer berpengalaman pun siap bergabung.

Thomas menjadi pemegang saham mayoritas. Tukang kebun gereja sedesanya, oleh Thomas diberi sejumlah saham yang sangat kecil sekali namun tentu sangat berarti bagi sebuah tanda persahabatan yang sejati. Mereka berkumpul di kantor notaris untuk menandatangani akte pendirian perusahaan (pabrik panci). Notaris mempersilahkan Thomas sebagai pemegang saham mayoritas untuk membubuhkan tandatangan paling dulu. Tetapi Thomas menolak dengan alasan, justru pemegang saham mayoritas sebaiknya paling akhir.

Setelah semua membubuhkan tandatangan, giliran Thomas. Namun notaris jadi terperangah karena Thomas hanya membubuhkan tanda “silang miring” (X), tidak lebih dan tidak kurang. Notaris berkali-kali menanyakan pada Thomas, apakah betul itu tandatangannya? Namun berkali-kali pula Thomas membenarkannya. Notaris mengernyitkan dahi tanda ia masih merasa sangsi. Lalu sekretaris Thomas membisikkan pada notaris bahwa sesungguhnya bosnya itu buta huruf. Notaris pun memahami dan menyatakan tandatangan tersebut “sah”.

SAAT PERESMIAN PABRIK SANGAT MERIAH. Tamu undangan dari berbagai lapisan masyarakat hadir dalam acara tersebut. Para pejabat sipil dan militer, para pengusaha, pedagang pasar teman-teman lama Thomas, orang-orang yang memberi makan Thomas selama dalam perjalanan dari desa ke kota, beberapa pemilik dan manajer toko, beberapa orang bekas bosnya, para pemegang saham, notaris, Bapak Pendeta, dan tak ketinggalan tukang kebun gereja teman sedesanya yang tetap setia mengabdi sebagai pesuruh dan tukang kebun.

Pak Notaris merasa terharu bercampur bangga melihat ada seorang buta huruf berhasil menjadi bos besar. Notaris memberitahukan pada Pak Walikota bahwa Thomas adalah seorang buta huruf. Walikota senang memperoleh informasi itu, sebagai salah satu bahan penting dalam memberikan sambutan peresmian.

Walikota sangat memuji kehebatan Thomas. “Kita semua pantas merasa bangga karena ternyata Bapak Thomas adalah seorang buta huruf,” kata Walikota dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan gemuruh. “Buta huruf saja bias mendirikan pabrik begitu besar. Apalagi bila seandainya Pak Thomas tidak buta huruf niscaya akan lebih hebat lagi,” sambung Walikota, dan hadirin kembali bertepuk tangan gemuruh. Para tamu saling berkomentar, semua mengakui kehebatan Thomas dan menyatakan kekagumannya.

Contact person: 
Sms/WA: 081808081555 
email: ambaldydjuardi@gmail.com 

GILIRAN THOMAS MENYAMPAIKAN SAMBUTANNYA. Setelah ia sampaikan visi dan misinya mendirikan pabrik panci, Thomas langsung merespon sambutan Walikota yang tadi, dengan mengungkapkan sekilas perjalanan hidupnya. Dikisahkannya bagaimana ia dicegah oleh ayah dan ibunya untuk pergi ke kota. Namun kemudian ia nekad setelah memberikan jaminan kepada kedua orangtuanya bahwa Thomas akan dengan baik-baik membawa diri. 

Semua hadirin terdiam dan dengan tajam memperhatikan Thomas yang berkisah tentang perjalanan hidupnya. Ia tunjuk seorang wanita muda yang datang bersama ibu dan suaminya, dan dia katakana bahwa merekalah yang pertama kali memberi makan ketika Thomas merasa lapar di perjalanan saat ia berangkat dari desa ke kota dengan berjalan kaki.

Ya, ia dengan jelas menunjuk saksi-saksi hidup yang banyak hadir di situ. Manajer-manajer toko yang menolaknya bekerja karena Thomas buta huruf dan lain-lain, termasuk sahabatnya tukang kebun gereja, sehingga memperkuat kebenaran ceritanya.

“Oleh karena itu bapak ibu saudara sekalian yang saya hormati… Terus terang saya berpikir, seandainya saya tidak buta huruf, jangan-jangan sampai saat ini saya masih tetap menjadi tukang kebun seperti kawan saya itu,” kata Thomas sambil menunjuk si tukang kebun yang kelihatan tersenyum-senyum diantara tetamu. Dan kali ini tepuk tangan serta sambutan hadirin betul-betul sangat gegap gempita.

Kamis, 03 Mei 2018

KIAS DUA BUAH BUKU


3-Kami sajikan petikan dari isi buku KIAT SUKSES MENCARI DAN MENDAPATKAN BANYAK UANG karya H.M. Ambaldy Djuardi, direktur dan pemilik JULIANA JAYA school of fashion yang terkenal. Kami akan rutin memetiknya untuk Anda, semoga bermanfaat. Mohon bersabar, oleh karena tebal buku mencapai lebih 300 halaman, maka kami hanya bisa memetiknya sebagian demi sebagian. Bagi Anda yang ingin segera membaca seluruhnya, bisa memesan buku yang sangat penting tersebut melalui sms/WA: 081808081555 atau email: ambaldydjuardi@gmail.com. Selamat membaca.

Bab I 
B. KIAS DUA BUAH BUKU 
(Halaman 49 – 50) 

Ada dua buah buku untuk Anda. Buku apa? Buku nasib! Satu buku adalah berjudul: “Anda yang Gagal, Miskin dan Menderita” dan satu buku lagi berjudul “Anda yang Sukses, Kaya dan Bahagia”. Kedua-duanya masih kosong. Maka sekarang Anda harus mengisinya, seperti buku “Sejarah Indonesia” maka isinya harus sesuai judulnya yaitu tentang sejarah Indonesia, bukan sejarah negara lain, begitu juga jika judul buku “Kimia” maka isinya adalah pelajaran kimia bukan pelajaran yang lain. Begitulah intinya.

Maka pada buku yang pertama, yang berjudul “Anda yang Gagal, Miskin dan Menderita”, apa yang akan Anda tuliskan? Harus malas, begadang mabok-mabokan, bangun kesiangan melulu, tidak disiplin, minder, suka menyalahkan orang lain, banyak menuntut, iri, dengki, sinis dan membenci orang kaya, berpikir negatip, takut berusaha, menganggap kemiskinan adalah nasib, dan lain-lain. Silahkan Anda tuliskan sesuka hati Anda, sebanyak-banyaknya yang Anda tahu, sebab itu adalah buku Anda sendiri.

Contact person: 
Sms/WA: 0818.0808.1555 
Email: ambaldydjuardi@gmail.com 

Kemudian pada buku yang kedua, “Anda yang Sukses, Kaya dan Bahagia”, maka Anda akan menuliskan hal-hal sebagai berikut: Harus rajin, mengatur waktu dengan baik, daripada begadang lebih baik membaca dan sembahyang malam, bangun padi tidak mau keduluan matahari, disipli, selalu berani mengoreksi kekurangan diri sendiri, selalu ingin bisa memberi dan tidak banyak menuntut, berani melakukan eksperimen-eksperimen usaha, tidak membenci orang kaya, yakin bahwa kita pun bisa kaya asalkan mau berusaha, dan banyak lagi. Isilah sesuka Anda dan sebanyak-banyaknya Anda tahu berbagai persyaratan orang yang bisa meraih sukses, karena itu adalah buku Anda sendiri. Tuliskanlah nasib Anda pada kedua buku nasib Anda itu.

Tuliskanlah sendiri pada buku “Anda yang gagal, Miskin dan Menderita” maupun pada buku “Anda yang Sukses, kaya dan Bahagia”. Renungkan, dan silahkan Anda hayati. Silahkan pilih untuk kemudian Anda laksanakan.

Pilihlah sebebas-bebas Anda memilih, sebab memang Anda sendiri yang menentukan masa depan Anda. Jika tujuan hidup Anda memilih judul buku “Anda yang Sukses, Kaya dan Bahagia” maka seluruh kata dan perbuatan Anda dalam keseharian; perilaku harus sama dengan syarat-syarat untuk Sukses, Kaya dan Bahagia, bukan sebaliknya, seperti banyak orang yang gagal dalam hidup ini.

Sabtu, 04 November 2017

KIAS ULAT DAN KUPU-KUPU

2--Kami sajikan petikan dari isi buku KIAT SUKSES MENCARI DAN MENDAPATKAN BANYAK UANG karya H.M. Ambaldy Djuardi, direktur dan pemilik JULIANA JAYA school of fashion yang terkenal. Kami akan rutin memetiknya untuk Anda, semoga bermanfaat. Mohon bersabar, oleh karena tebal buku mencapai lebih 300 halaman, maka kami hanya bisa memetiknya sebagian demi sebagian. Bagi Anda yang ingin segera membaca seluruhnya, bisa memesan buku yang sangat penting tersebut melalui sms/WA: 081808081555 atau email: ambaldydjuardi@gmail.com. Selamat membaca.


Bab I 
A. KIAS ULAT DAN KUPU-KUPU 
(Halaman 43 – 47) 


Pernah mendengar cerita tentang ulat keket dan kupu-kupu? Kalau belum, biarlah saya mendongeng untuk Anda. Pada suatu ketika, di sebuah pohon sirsak yang rindang, hidup ratusan ulat yang masih kecil-kecil. Namun akhirnya tinggal 20 ekor ulat yang sehat dan kuat-kuat. Seekor kupu-kupu yang bersayap indah sering datang menengok mereka.

“Aku adalah ibumu,” kata kupu-kupu.

“Benarkah engkau adalah ibuku? tanya ulat-ulat itu. “Tetapi kenapa engkau punya sayap yang indah dan bisa terbang ke mana-mana, sedangkan kami tidak?”

“Anak-anakku, ketahuilah, kalau bisa terbang memang menyenangkan sekali.”

“Cepat ajari aku terbang, Ibu.”

“Tidak mungkin sekarang, anakku.”

“Tapi Ibu kan sayang pada kami...”

“Tidak semudah itu, anakku. Apakah kalian mau mengikuti tatacaranya?”

“Mau, mau...” semua ulat itu menjawab serentak.

“Baiklah,” kata kupu-kupu; “yang pertama, kalian harus berpuasa. Kalian harus ingat bahwa daun sirsak itu terbatas. Kalau kalian makan terus, nanti habis dan pohon sirsak itu akan mati,” kata kupu-kupu.

“Kalau tidak usah berpuasa tapi makannya sedikit saja, boleh, kan, Ibu?” Ada ulat yang bertanya begitu.

“Tidak boleh, anakku. Kalian harus berpuasa. Supaya badan kalian jadi ringan dan nanti bisa terbang.”

“Terus, apa lagi yang harus kami lakukan, Ibu? Cepat katakan.”

“Selama berpuasa kalian harus tahan terhadap godaan. Apa pun yang terjadi, kalian harus tetap berpuasa. Sanggup?”

“Sanggup, Ibu,” jawab beberapa ulat. Tetapi banyak juga ulat yang tidak menjawab.

“Bagus! Setelah beberapa hari nanti kalian akan mengeluarkan air liur yang banyak. Maka lilitlah tubuhmu dengan air liur itu. Ingat, kalian harus tahan terhadap godaan, dan terus melilit tubuh kalian sampai terbentuk kepompong yang kuat. Kalian mengerti?!”

“Mengerti, Ibu,” jawab beberapa ulat dengan patuh. “Selain itu, apa lagi yang harus kami lakukan?”

“Tetaplah berada di dalam kepompong itu sampai kalian punya sayap, punya kaki yang baru, punya belalai untuk mengisap madu. Setelah itu kalian boleh keluar dan terbang. Sudah paham semua?”

“Sudah, Ibu.”

“Baiklah, sekarang Ibu mau terbang dulu mencari madu bunga yang manis sambil menikmati panorama yang indah,” kata induk kupu-kupu dan langsung berlalu.

Sepeninggal kupu-kupu, terjadi pertentangan pendapat diantara 20 ekor ulat itu. Ada yang percaya pada kupu-kupu, ada yang tidak. Ada sepuluh ekor ulat yang menolak berpuasa. Mereka tidak percaya agar bisa terbang harus bersusah-susah dulu seperti itu. Harus berpuasa, lalu harus mengurung diri di dalam kepompong segala. Alangkah berat ujian itu.

Namun ada sepuluh ekor ulat lain yang percaya dan mematuhi kupu-kupu tadi. Mereka mencari tempat yang terlindung dan segera memulai berpuasa. Mereka ada yang tenang, ada yang gelisah. Sementara godaan begitu besar. Harus menahan rasa lapar dan haus, ditambah lagi saudara-saudaranya yang menolak berpuasa selalu mengganggunya. Mereka sengaja makan dengan lahap di depan ulat-ulat yang sedang berpuasa. Beberapa diantara ulat-ulat yang sedang berpuasa itu kelihatan lesu dan murung. Ulat yang sedang makan, mengejeknya, menggodanya.

“Kenapa... lapar, ya?”

“Iya ni, lapar sekali.”

“Makanya, aku bilang tidak usah berpuasa. Baru sehari saja kamu sudah begitu susah. Makanlah segera, agar tidak mati. Aku kakakmu sangat sayang padamu. Aku tidak mau kamu mati gara-gara kelaparan.”

Kakaknya yang lain yang sedang berpuasa, menyahut; “Jangan adikku, jangan makan, tetaplah berpuasa. Percayalah apa yang dikatakan Ibu. Kan, kamu ingin bisa terbang. Kalau kita tabah pasti akan berhasil. Nanti kita punya sayap, bisa terbang, kita bisa main bersama-sama, pergi ke tempat yang jauh. Pasti menyenangkan sekali.”

“Tapi apakah betul nanti kita bisa terbang? Sedangkan sekarang pun badanku sudah lemas.”

“Kan, kamu sudah lihat sendiri, buktinya ibu kita bisa terbang. Sudahlah, pokoknya aku pesankan kamu tetap berpuasa. Aku pun akan segera membuat kepompong seperti yang dianjurkan Ibu.”

Ulat yang bimbang itu pun tergoda. Ia mulai makan lagi. Enam ekor ulat yang semula berpuasa, kini membatalkan diri, tidak tahan terhadap godaan. 

Tinggal empat ekor yang berpuasa. Mereka giat membuat kepompong. Mereka tidak terpengaruh godaan saudara-saudaranya yang lain. Setelah kepompong tebal, mereka tidak lagi kelihatan dari luar. Sejak itu saudara-saudaranya yang tak mau berpuasa tidak lagi menggodanya, melainkan malah mengejek.

“Lihatlah, mereka semua sudah terkurung di dalam kepompongnya sendiri. Sebentar lagi mereka pasti akan mati,” kata seekor ulat yang tubuhnya gemuk dan besar.

“Betul, mereka sebentar lagi pasti akan mati,” sahut yang lain. Lalu mereka semua tertawa.

Enam belas ekor ulat yang tidak mau berpuasa itu terus melahap daun sirsak dengan amat rakus. Ulat besar yang sulit bergerak saking gemuk, warnanya hijau kehitam-hitaman, itulah yang disebut ulat keket. 

Pada suatu hari sebuah kepompong mulai bergerak-gerak. Ulat keket pun memperhatikannya. Ulat yang pertama melihat, memanggil yang lain, sehingga beberapa ulat keket berkumpul di sekitar kepompong itu. Tiba-tiba muncul seekor kupu-kupu yang bersayap indah, dari dalam kepompong tersebut. Dari dalam kepompong yang lain pun muncul kupu-kupu yang lain. Kupu-kupu terbang, hinggap dari dahan ke dahan, dari daun ke daun, dari pohon yang satu ke pohon yang lain, dan kembali lagi. Lihatlah, mereka menghampiri bunga yang sedang mekar, mengisap madunya... Mereka begitu bergembira-ria ke sana ke mari. Lalu kembali ke pohon sirsak lagi.

“Apa kabar saudara-saudaraku,” kata kupu-kupu pada para ulat keket yang tidak mau berpuasa serta mengurung diri di dalam kepompong itu. “Sekarang aku sudah punya sayap, aku bisa terbang, karena aku mau berpuasa dan mengikuti tatacara yang berlaku. Sekarang aku mau terbang mencari madu bunga yang manis sambil melihat-lihat pemandangan alam yang indah. Selamat tinggal.”

“Tunggu, aku ikut,” kata ulat keket. “Aku juga ingin terbang seperti kalian. Aku juga ingin mengisap madu bunga yang manis. Aku juga ingin melihat-lihat pemandangan alam yang indah. Tunggu, jangan tinggalkan aku.”

Kupu-kupu terbang, tak menghiraukan rintihan ulat keket yang dulu menolak berpuasa dan selalu menghinanya. Ulat keket juga ingin terbang, tapi jatuh, lalu dipatok ayam. Ada yang jatuh, lalu terinjak anak-anak yang sedang bermain. Ada yang jatuh dan tercebur ke got berair, lalu mati tenggelam.

BEGITULAH. Para kupu-kupu behasil mencapai cita-cita-nya karena mematuhi hukum Tuhan yang telah menetapkan jalur-jalur proses yang harus ditempuh dan diikuti bagi yang ingin sukses. Ulat keket tumbang dan menemui kesialan karena hanya berorientasi pada hasil tanpa mau menempuh dan mengikuti proses. Hanya mau berpikir tentang hasil tanpa mau berusaha dengan tekun. Demikianlah sebuah dongeng yang patut kita jadikan cermin.

Keberhasilan adalah hak bagi siapa pun yang mau bersusah-susah dulu. Tetapi juga harus kita ingat bahwa keberhasilan bukan hak bagi orang-orang susah yang menganggap kesusahannya sebagai mutlak miliknya. Jadi orang yang akan menikmati keberhasilan adalah orang yang bercita-cita dan mempunyai tekad yang kuat serta mau bersusah-susah dulu untuk mencapai keberhasilan tersebut.

Minggu, 29 Oktober 2017

ENAM SIKAP KEBERANIAN

1-- Kami tampilkan petikan dari isi buku KIAT SUKSES MENCARI DAN MENDAPATKAN BANYAK UANG karya H.M. Ambaldy Djuardi, direktur dan pemilik JULIANA JAYA school of fashion yang terkenal. Kami akan rutin memetiknya untuk Anda, semoga bermanfaat. Mohon bersabar, oleh karena tebal buku mencapai lebih 300 halaman, maka kami hanya bisa memetiknya sebagian demi sebagian. Bagi Anda yang ingin segera membaca seluruhnya, bisa memesan buku yang sangat penting tersebut melalui sms/WA: 081808081555 atau email: ambaldydjuardi@gmail.com. Selamat membaca.

6 SIKAP KEBERANIAN 
(halaman 35 – 42) 

Para ahli motivasi, para motivator mengatakan, seribu angan-angan dapat dikalahkan dengan satu tindakan yang pertama. Langkah pertama, itulah kunci sukses. Banyak orang, bahkan kebanyakan orang, banyak bermimpi, banyak berkhayal, banyak berangan-angan tapi tidak pernah melaksanakan angan-angannya itu; impian hanya tetap impian. Kalau Anda ingin sukses, lakukan langkah pertama.

Langkah pertama adalah langkah perjuangan untuk keberhasilan, dengan tekad bulat. Tekad bulat itu berani. Kalau orang tidak berani berarti tidak bisa merobah sejarah hidupnya. Kalau Muhammad Ali takut bertinju, takut kalah, pasti dia tak akan menang dalam bertinju. Tanpa keberanian, orang tidak akan bisa merobah sejarah. Ada anak muda ingin kuliah, dana tak ada, biaya tidak ada, tetapi karena ada lambang tekad bulat keberanian, bisa dia kuliah. Dia bekerja di malam hari, atau kerja paruh waktu kuliahnya tiga kali seminggu, atau bekerja seperti biasa dan mengikuti program kuliah bagi karyawan. Orangtuanya kaget, kok bisa anaknya kuliah? Bisa, karena dia berani mengambil risiko, berani dengan tekad yang bulat melepaskan sifat-sifat penuntut dan mengembangkan sifat-sifat pemberi, berani berjuang, berani berkorban, berani melangkah.

Jadi siapa pun dalam hidup ini dia akan berhasil, kalau dia berani melangkah. Anda apabila memimpikan punya kekayaan yang besar, membayangkan senangnya bisa memberi pada ba-nyak orang, ingin sukses berbisnis, ingin sukses berusaha, ingin sukses mendirikan usaha, tapi hanya angan-angan belaka, omong sana omong sini ingin punya usaha mandiri dan sukses tanpa bukti langkah nyata, itu namanya omdo; omong doaangng...

Jadi orang harus bisa membuktikan omongannya, harus bisa membuktikan impiannya, dengan langkah-langkah keberanian. Langkah keberanian itulah yang bisa merobah nasib. Contoh; kalau orang disuruh nagih oleh orangtua-nya, ada anak muda disuruh nagih; “Tolong datang ke rumah Pak Durahman, Bapak punya janji katanya mau dibayar oleh dia satu juta.” Tapi si anak muda tadi berkata pada ayahnya, “Pak, ini kan hujan, takut ada geledek, mana lewat kuburan, lagi. Besok pagi saja.” Itu kata anak yang malas. Si bapak tadi lalu menyuruh anaknya yang lain, ternyata mau dan langsung bersiap-siap berangkat; tepat sekali dia berpandangan, jas hujan ada, payung ada, apa susahnya. “Bagus,” kata sang ayah; “hati-hati ya, nanti Bapak kasih hadiah.”

Ternyata Pak Durahman memang sudah menunggu, uangnya pun sudah disiapkan, dan si anak yang kedua tadi berhasil membawa uang satu juta, kemudian diserahkan pada ayahnya. Jelaslah yang mendapat hadiah yang tidak malas itu, yang punya keberanian dan segera mengayunkan langkah tanpa menunda-nunda waktu berlalu begitu saja. Itu salah satu contoh. Ada lagi; ada orang punya sepeda motor tapi tak berani mengendarainya, akhirnya tidak bisa naik motor, mau ke mana-mana harus mengajak orang lain untuk memboncengkannya. Terkait orang yang berani naik motor pun menarik sekali.

Coba bayangkan, bila ada orang punya angan-angan, punya impian, punya keinginan untuk mendirikan usaha, ke mana-mana dia naik motor dan setiap bertemu teman-teman pun ia ungkapkan keinginannya itu, tetapi sudah bertahun-tahun bahkan belasan tahun tidak terwujud-wujud juga. Sesungguhnya karena apa? Sesungguhnya karena tidak berani memulai langkah pertama. Aneh, kan, orang ke mana-mana naik motor, risikonya besar bisa mengalami kecelakaan yang fatal, berani dia, kok memulai membuka usaha tidak berani.

Baiklah, tetapi saya pun memahami bila saudara-saudaraku sekalian ada yang mengalami seperti itu. Saya memaklumi bila umpamanya Anda berkata, sebenarnya bukannya tidak berani, cuma masih ragu-ragu saja. Ya, ragu-ragu, terus sampai kapan? Baiklah, baiklah, saya mengerti Anda berani tapi ragu-ragu. Oleh karena itu keragu-raguan pun harus dihilangkan. Mari kita sulap keragu-raguan itu menjadi tekad bulat yang sebulat-bulatnya. Ada enam sikap keberanian yang bukan saja harus Anda pahami tapi juga harus Anda miliki. Untuk mendirikan usaha, agar berhasil dengan baik, perlu berbekal keberanian; harus benar-benar berani, orang berani itu orang nekad namanya. Kalau tidak nekad buka usaha, harus sampai kapan akan punya usaha sendiri dan impian tetap bersemayam di angan-angan?

Ada enam sikap keberanian yang harus Anda pahami sebaik-baiknya, lalu rakusi ia, lumat-lumatlah untuk kemudian Anda telan agar menjadi energi dahsyat pengembang semangat pantang menyerah untuk segera mendirikan usaha kecil-kecilan dulu dan menggenjotnya dengan kecerdasan prima untuk dalam waktu relatif singkat bisa menjadi sumber penghasilan yang besar dan menjadikan Anda kaya raya.

Keberanian yang pertama adalah berani meniru sukses orang lain. Kenapa begitu? Ya, orang-orang bisa masak kita tidak. Sebenarnya kita ini kan meniru; orang tua menyapu caranya begitu lalu kita bisa menyapu, orangtua cuci piring kita tiru, orangtuanya bisa bikin sate anaknya bisa bikin sate, orangtuanya pintar masak gado-gado anaknya meniru bisa juga bikin gado-gado. Artinya apa? Artinya, meniru itu gampang. Dalam persoalan bisnis, kalau ada orang berhasil dagang bakso laris, bisa enggak ya, kita tiru? Gampang kok, tinggal buka internet, search...”bakso enak”, akan mendapat jawabannya. Kenapa ya, kok ada orang bikin gado-gado enak... ya, search saja.

Nah, ini ada contoh, ada seorang pembantu rumah tangga bekerja pada orang kaya yang bisnisnya gado-gado. Setelah beberapa tahun dia mengundurkan diri tidak jadi PRT lagi, tapi jualan gado-gado. Akhirnya bisa merobah nasibnya, karena dia berani. Seorang pembantu rumah tangga berani dagang gado-gado seperti bosnya yang dulu, berkat berani meniru. Bagus sekali dengan dilakukan modifikasi, misalnya ditambah kacangnya, ditembah terasinya, ditambah gulanya, sehingga rasanya lebih enak lagi. Kalau Anda mau buka usaha, tiru saja. Jangan takut salah.

Perbanyak ilmu-ilmu praktis dengan mengikuti kursus-kursus. Kalau mau membuka usaha di bidang kursus pula, tiru saja yang sudah ada. Kursus Menjahit dan Mode JULIANA JAYA sudah lebih 30 tahun, puluhan cabangnya ada di mana-mana. Tiru saja yang saya lakukan. Saya tidak bisa menjahit, tapi punya kursus menjahit. Saya kalau kelabakan cari guru jahit, saya pasang iklan dua-tiga baris di suratkabar. Anda pun bisa melakukannya.

Manfaatkanlah iklan mini atau iklan baris di koran-koran. Misalnya mau buka usaha las, pasang iklan saja dua-tiga baris, dicari tukang/ahli las, pengalaman... Akhirnya datang beberapa tukang las ke rumah Anda. Bicarakanlah mengenai kerjasama membuka usaha di bidang las-mengelas dengannya. Itu namanya Anda berani. Banyak yang seperti itu, ingin punya suatu usaha dengan cara meniru sukses orang lain. Anda juga ingin sukses seperti mereka? Ya sudah, tiru saja. Namun jangan meniru merk, karena bisa berurusan dengan hukum. Itulah keberanian yang pertama, berani meniru sukses orang lain, dan Anda pasti bisa.

Banyak contoh jenis-jenis usaha di dalam buku ini, tiru saja. Saya bersedia memberikan konsultasi gratis bagi Anda, di buku ada telepon “Juliana Jaya”, hubungi saja, selagi bersesuaian waktu diantara kita Insya Allah bisa bertemu. Mau meniru buka usaha kursus jahit juga? Silahkan. Atau mau bertahap melalui sistem franchise dulu? Boleh. Silahkan kalau Anda berminat mau franchise Juliana Jaya. Hubungi saja Ibu Devi di Pusat JULIANA JAYA Pulogadung. Nanti kita bicarakan lebih lanjut. Keberanian yang kedua adalah berani mengguna-kan tenaga orang. Artinya, kita kan tidak bisa semua urusan, maka untuk menjalankan usaha, tak harus kita sendiri. Terjun langsung, harus, sebagai pemilik tentu harus terjun mengurusi usaha, saya pun begitu, tetapi saya tidak perlu menjadi guru jahit, tidak perlu menangani pembukuan sendiri, saya terjun langsung sebagai direktur.

Bagaimana menggunakan tenaga orang, tetapi yang bersangkutan betah, itu kunci yang penting. Menggunakan tenaga orang, bila Anda punya mobil dan tidak bisa menye-tir sendiri seperti saya, pakai tenaga orang sebagai pengemudi. Jangan pelit jadi bos, sering-sering memberi uang ekstra pada sopir kita, itu pun bagus sekiali. Pekerjaan di rumah, maksudnya pekerjaan rumahtangga, banyak, dan keluarga kita kerepotan menanganinya sendiri, pakai tenaga orang untuk membantu kita. Jangan pula lalu pembantu itu Anda bikin capek secapek-capeknya, hargai dia tenaga-nya pun terbatas, sering-sering dikasih uang jajan, kenapa pula tidak? Bukankah begitu? Hitung-hitung sedekah. Harta itu, semakin banyak disedekahkan semakin banyak bertambahnya. Dalam menjalankan usaha pun demikian.

Tenaga orang, atau pegawai kita, perlu juga dikasih perangsang-perangsang sesuai prestasinya ataupun sesuai rezeki yang masuk ke perusahaan kita. Misalnya saya, usaha kursus jahit, guru pun mendapat bagian sejumlah persentase tertentu dari setiap murid yang masuk. BPJS gratis kelas satu, dan lain-lain. Banyak macam cara bisa Anda terapkan. Gunakanlah tenaga orang untuk sukses usaha Anda. Kalau misalnya mau buka usaha kuliner, tidak bisa masak sate kambing yang enak, pasang iklan...dicari orang yang bisa memasak sate kambing enak, siap di-test. Tidak usah Anda jadi ahli tukang sate, yang penting Anda jadi otaknya usaha warung sate itu. Anda memimpin ahli-ahli tukang sate untuk sukses usaha bersama. Itulah keberanian yang kedua, yaitu berani menggunakan tenaga orang.

Keberanian yang ketiga adalah berani menggunakan uang orang lain. Caranya banyak; ingat IMF. I di sini adalah ISTRI. Katakan, Ma, Papa ingin buka usaha tapi uang enggak punya. Mama bisa bantu, kan? Misalnya begitu. Mungkin istri Anda mengatakan, tak punya uang. Ya, itu kalung kan ada, dilepas dulu sementara nanti kita beli yang lebih besar lagi. Ini usaha kan bagian keuangannya Mama yang pegang. Papa hanya ingin mewujudkan impian Papa punya usaha sendiri dan sukses, kita jadi orang kaya. Begitulah kiranya, dan akhirnya istri dengan senang hati melepas perhiasannya untuk membuka usaha bersama.

Kalau istri tidak punya, hubungi M, yaitu MERTUA. Menghadaplah pada mertua, berdua dengan istri Anda. Paparkan rencana Anda yang bagus itu, dengan cita-cita yang besar, demi kecemerlangan keluarga Anda. Mertua tentu berpikir, keberhasilan usaha Anda itu adalah untuk anaknya juga, untuk masa depan cucu-cucunya.

Kalaupun tidak berhasil, masih ada F, yaitu FAMILI, dan di sini artinya bisa diperluas. Bisa famili yang berkaitan sebagai saudara dari pihak istri/suami, atau dari pihak Anda sendiri, tetapi bisa juga lebih luas lagi lingkupnya bukan hanya yang berkaitan sebagai saudara, melainkan termasuk kawan-kawan lama, dan sebagainya. Realisasinya bisa dalam bentuk pinjaman lunak, kerjasama, dan lain-lain.

Keberanian yang keempat adalah berani memulai. Mulailah segera, jangan lama-lama. Pilihlah jenis usaha yang Anda minati, yang cocok, yang tepat, yang modalnya kecil untungnya besar. Tetapkan hari tanggal bulan tahun kapan akan memulai. Tetapkan waktunya, jangan tidak, tetapkan 90 hari dari sejak Anda memutuskan akan membuka usaha tersebut. Selama 90 hari itu setiap waktu Anda berpikir tentang mendirikan usaha yang Anda impi-impikan itu tadi. Misalnya bulan pertama mencari tempat, lalu mengurus izin usaha, menyiapkan sarana-sarana, dan seterusnya.

Baca buku ini baik-baik, Anda pun akan menemukan cara-cara mencari tempat yang strategis, cara meng-urus izin usaha, dan sebagainya. Kita harus berani mulai, tanpa mulai omong kosong, tanpa mulai tetap omdo. Rencana jangan ditunda-tunda. Lebih cepat lebih baik. Tanpa perencanaan tidak bisa. Berani memulai berarti berani menjadi orang kaya. Beranikah Anda menjadi orang kaya? Kalau tidak berani menjadi orang kaya, tidak usah memulai buka usaha. Keberanian yang kelima adalah berani marketing dan promosi. Singkatnya adalah berani pasang iklan. Tidak usah iklan yang hebat-hebat, cukup iklan baris atau iklan mini saja.

Percayalah padaku, sayang... Saya sudah puluhan tahun mengelola kursus menjahit JULIANA JAYA, sebentar saja lalai memasang iklan di suratkabar, omset langsung menurun. Begitu juga bila lalai pasang stiker, banner, termasuk menyebarkan brosur. Lalu keberanian yang keenam adalah berani buka cabang. Anda bayangkan, bagaimana kalau saya hanya punya satu tempat kursus, pahitlah hidup ini. Tapi karena kursus saya lebih dari 25 cabang, ya, alhamdulillah.

Segeralah buka cabang, bila usaha yang satu sudah berjalan, buka cabang lagi, buka cabang lagi. Itulah saudara-saudaraku tersayang, rumus enam sikap keberanian yang harus Anda miliki untuk meraih masa depan yang gemilang. Anda tidak sendirian, ada saya yang siap menemani Anda.

Segeralah bangkit untuk menggairahkan perekonomian nasional dan mengatasi pengangguran. Masa depan bangsa dan negara pun ada bebannya di pundak Anda juga. Mari berjuang demi kejayaan Indonesia.