Selasa, 21 Agustus 2018

KISAH THOMAS KISAH EMAS

Petikan isi buku KIAT SUKSES MENCARI DAN MENDAPATKAN BANYAK UANG karya H.M. Ambaldy Djuardi.

Bab I 

C. KISAH THOMAS KISAH EMAS 

(Halaman 51 – 61) 

Jika Anda pernah mengikuti seminar motivasi atau membaca buku-buku motivasi, mungkin pernah tahu kisah yang satu ini. Begitupun saya. Seting kisahnya memang terjadi di belahan dunia lain, tetapi bagus sekali untuk kita jadikan cermin. Anda ingin tahu? Baiklah, saya akan mengisahkannya kembali dengan mengadaptasinya secara bebas, setelah yang satu ini.

Contact person: 
Sms/WA: 081808081555 
email: ambaldydjuardi@gmail.com 

THOMAS ADALAH ANAK DESA, anak seorang petani miskin. Ia sudah terbiasa rajin bekerja sejak kecil, membantu orangtuanya. Thomas punya keinginan yang besar, ingin merantau dan menjadi orang sukses. Tetapi ayah dan ibunya berkeberatan.

 “Bukan kami melarangmu merantau ke kota, tapi cobalah pikirkan sekali lagi. Bukankah di desa ini pun sudah cukup baik. Walaupun kita miskin, namun tidak pernah kekurangan makan,” kata ayahnya.

“Tetapi bukankah Ayah dan Ibu melihat sendiri, teman-teman di sini banyak yang merantau ke kota dan bila pulang mereka selalu membawa uang yang banyak?”

“Jadi, kamu ingin seperti mereka?”

“Bukan, tapi saya ingin jauh lebih kaya daripada mereka. Saya tidak akan pulang kampung sebelum saya jadi orang kaya.”

 “Tetapi bekalmu untuk hidup di kota itu apa? Mereka anak-anak yang punya ijazah, sedangkan kamu jangankan ijazah, sekolah pun tak pernah. Ayah merasa sedih karena selama ini tak bisa membekalimu dengan pendidikan sekolah.”

“Itulah, anakku,” tambah ibunya. ”Jadi wajar kan, kalau ayahmu merasa khawatir?”

“Tenang Ayah... tenang Ibu, dan Ayah tak usah bersedih. Selama ini Ayah dan Ibu telah memberikan pendidikan yang mahal kepada saya, walaupun saya tidak bersekolah. Ayah dan Ibu tidak usah khawatir, saya pasti bisa membawa diri.”

“Tetapi Thomas, kamu harus ingat, di kota tidak ada tempat bagi orang yang buta hurup seperti kamu.”

THOMAS TETAP PADA TEKADNYA. Tidak ada lagi yang bisa mencegahnya pergi meraih cita-cita. Pagi-pagi sekali Thomas kabur, meninggalkan desanya, pergi ke kota tanpa bekal uang sepeser pun, selain satu-satunya harta yang selama ini paling beharga baginya, yaitu sebuah cangkul yang kini pun selalu dipikul di pundaknya. Ia tidak mau menumpang kendaraan umum tanpa membayar. Thomas berjalan kaki, tak peduli berapa pun jauhnya. Semangat yang tinggi telah mengenyahkan rasa lelahnya. Namun menjelang tengah hari, ia pun mulai merasa lapar.

Thomas menghampiri sebuah rumah besar dan bagus di pinggir jalan. Ia menilai, keindahan rumah itu sangat terganggu karena lahan kecil di depannya tidak terawat. Thomas segera menekan bel di pintu pagar, dan keluarlah seorang pembantu serta seorang nenek. Thomas langsung mengutarakan maksudnya. “Saya Thomas, anak desa. Saya bermaksud menawarkan jasa untuk membersihkan alang-alang di depan rumah ini, sehingga keindahan rumah Nyonya tidak terganggu lagi olehnya. Saya ingin ke kota tapi tidak punya bekal, dan saya hanya perlu sepiring nasi.” Thomas berkata-kata dengan santun namun bersemangat. Thomas dipersilahkan masuk. Mereka duduk di teras.

Tidak lama kemudian pembantu menyuguhkan minum dan makan. “Silahkan makan, Thomas,” kata nenek itu sambil tersenyum ramah. “Terimakasih, tapi saya mau bekerja dulu, setelah selesai nanti baru saya akan makan,” jawab Thomas yang langsung beranjak membersihkan alang-alang di depan rumah, di luar pekarangan. Sebuah mobil datang.

Seorang wanita muda memperhatikan Thomas dari dalam mobil, sebentar, lalu mobil pun masuk pekarangan. Dialah nyonya rumah itu. Kini lihatlah, pemandangan di depan rumah tersebut terlihat demikian rapi. Pekerjaan sudah selesai, Thomas pun makan dengan lahap. Ia tidak tahu sedang diperhatikan oleh tiga orang dari dalam rumah. Ia juga tidak menyadari, sejumlah butir-butir nasi menempel menghiasi bagian wajahnya sekitar mulut, meski begitu ia tahu, saat sedang makan itu keringat dari wajahnya sempat menetes beberapa kali. Ketika Thomas selesai makan dan mengusap wajahnya dengan saputangan, nyonya rumah dan ibunya keluar. Terus terang, mereka sangat terkesan kepada Thomas.

Ketika Thomas pun menyatakan sekalian ingin merapikan bagian-bagian tertentu pada halaman rumah itu, mereka langsung setuju. Wahai, lihatlah; Thomas baru saja memberikan yang terbaik (atau setengah baik) kepada orang yang baru dikenalnya. Dan orang yang baru dikenalnya itu pun memberikan yang, mungkin bagi orang kaya itu hanya sekedarnya saja, namun Thomas merasakannya pemberian itu adalah sangat baik baginya.

Thomas telah menyelamatkan perutnya hari ini, bukan dengan meminta tetapi memberi. Bahkan bukan hanya itu. Bahkan Thomas juga memperoleh sejumlah uang. Bahkan Thomas pun diminta menginap barang semalam di rumah gedong itu, tetapi Thomas tidak berkenan.

Ia melanjutkan perjalanan ke kota dengan tetap menempatkan diri sebagai Thomas apa adanya. Tetap berjalan kaki, dan memilih tidur di pos hansip atau di pos polisi. Begitulah Thomas, ia berjalan kaki berhari-hari tanpa sedikit pun mengeluh. Betul! Tanpa sedikit pun mengeluh. Semua dijalaninya dengan riang hati dan penuh harapan. Maka segala sesuatu yang terjadi atas dirinya tidak disikapinya sebagai penderitaan, melainkan ya memang begitulah adanya.

Thomas lalu, meskipun dari desa hanya berbekal sebuah cangkul, namun sesampai di kota ia malah sudah memiliki sejumlah uang. Semua ia dapatkan bukan dengan meminta, melainkan dengan saling memberi. THOMAS MELAMAR MENJADI PELAYAN DI SEBUAH TOKO. Dengan “modal nekad”, ia masuki sebuah toko itu, lalu menyatakan keinginannya bekerja di situ. “Saya yakin Anda bisa bekerja dengan baik, tetapi sayang sekali Anda buta huruf. Jadi terpaksa sekali kami tidak bisa menerima Anda,” kata manajer toko.

Thomas merasa kecewa, namun ia tak mau bersedih. Satu toko menolak, tapi di sepanjang jalan itu terdapat ratusan toko. Salah satu diantaranya niscaya mau menerimanya bekerja. Begitulah keyakinan Thomas. Lalu ia keluar masuk toko-toko mencari pekerjaan, namun yang selalu ditanyakan pada Thomas adalah soal ijazah sekolah. Memang belum seratus toko ia masuki, dan semua menolaknya bekerja di situ karena Thomas tidak memiliki ijazah sekolah, maka cukup alasan bagi Thomas untuk tidak lagi mengikuti keinginannya menjadi pelayan toko di kota.

Menjelang senja, ia mampir ke sebuah gereja. Ingin sekali bersembahyang di sini, dan bila mungkin akan numpang tidur pula barang semalam. Thomas berbincang-bincang dengan seorang tukang kebun dan sekaligus pesuruh gereja itu. Rupanya mereka berasal dari desa yang sama, tetapi kampungnya berjauhan. “Boleh aku ikut bekerja di sini?” tanya Thomas. “Nanti aku bilang pada Bapak Pendeta. Beberapa hari yang lalu beliau memang menyuruh aku mencari tenaga baru untuk tukang kebun. Maksudnya agar kerjaku tidak terlalu berat,” kata temannya.

Namun ternyata, lagi-lagi Thomas ditolak bekerja di kota, walaupun hanya untuk “jabatan” tukang kebun sekalipun, karena buta huruf. Untunglah, Bapak Pendeta mencarikan jalan keluar. Thomas diberi “memo” untuk disampaikan pada salah seorang jemaat yang kebetulan tengah menangani pembangunan sebuah hotel tak begitu jauh dari situ.

Thomas diterima bekerja sebagai kenek tukang batu. Ia bekerja dengan tekun dan giat. Memberi lebih daripada yang diminta pemberi pekerjaan; itulah yang ada dalam pemikirannya. Thomas hebat, prinsipnya pun kuat. Jika menerima honor mingguan, teman-temannya berfoya-foya, Thomas tidak ikut-ikutan. Jika teman-temannya merokok, makan enak berlebih-lebihan, Thomas tetap menahan diri. Ada yang pergi “pelesiran”, ada yang main judi, Thomas malah buru-buru menemui Bapak Pendeta untuk menitipkan uangnya.

Suatu ketika pekerjaan pembangunan hotel yang melibatkan dirinya sebagai tenaga kasar sudah selesai. Thomas jalan-jalan ke sebuah pasar. Ia sangat terkesan melihat seorang pedagang kakilima yang menjual peralatan rumah tangga seperti barang-barang pecah belah, panci-panci, penggorengan, keset kaki, gayung, lap pel, dan sebagainya. Thomas terkesan, karena pedagang tersebut berjualan dengan cara yang lincah, banyak kata banyak gaya yang menarik, sehingga menarik pula bagi orang untuk membeli, dan dagangannya laris manis.

Dia pikir, enak sekali mencari uang dengan cara berdagang. Setelah sepi, Thomas mendekati pedagang itu. Ia tanya, berapa banyak keuntungan bisa diperolehnya setiap hari? Ternyata jauh lebih besar daripada penghasilannya sebagai kenek tukang batu. “Bagaimana caranya saya bisa ikut jualan seperti Anda?” tanya Thomas. “Kamu harus menemui bos.” “Mau kan, Anda memperkenalkan saya padanya?” “Boleh, tapi...” “Pasti akan aku perhitungkan jasamu sebagai tanda terimakasihku. Aku membawa sejumlah uang,” kata Thomas dengan penuh semangat.

Esok hari Thomas dipertemukan dengan bos pedagang itu. Ternyata, Thomas harus “menaruh” sejumlah uang jaminan. Bagi Thomas hal itu tak jadi masalah, sebab ia punya banyak uang yang ia titipkan pada Bapak Pendeta. Dalam waktu singkat, ia sudah menjadi seorang pedagang tanpa punya toko, banyak kawan di pasar itu, karena Thomas senang dan pandai bergaul.

Bukan hanya dengan sesama pedagang kakilima, tetapi juga dengan pedagang-pedagang yang memiliki toko. Bahkan Thomas juga bergaul dengan para salesman dan salesgirl perusahaan yang sering datang ke pasar tersebut. Dari sopir, pelaksana lapangan sampai manajernya, ia “gauli” dengan baik. Berkat cara bicara yang baik, Thomas pun bisa bergaul dengan baik. Ia banyak bertanya pada teman-temannya. Bertanya apa saja. Apalagi pada orang-orang yang lebih hebat, maka ia tak segan-segan berguru padanya.

Tekadnya sudah bulat, ingin meraih keberhasilan seperti pernah diucapkannya di hadapan ayah dan ibunya; harus bisa menjadi orang yang paling kaya di desa asalnya yang kini telah beberapa tahun ia tinggalkan. Thomas selalu bersemangat tinggi. Ia sangat lantang dan penuh gairah menawarkan dagangannya. Thomas tak pernah murung bila dagangannya hanya sedikit yang laku. Baginya itu soal biasa. Begitu pun bila dagangannya laris manis, ia tidak lalu kelewat bersuka-cita, apalagi berfoya-foya.

Akibatnya, Thomas menjadi pedagang kakilima yang sangat menonjol di pasar itu. Meskipun Thomas tidak pernah bersekolah, tetapi ia memiliki cara berbicara yang baik, cara bergaul yang baik, cara belajar yang baik dan cara berpikir yang baik. Itulah sebabnya ia sukses. Kini Thomas memang sudah kaya, namun dalam ukuran seorang pedagang kakilima. Masih bujangan, uangnya banyak. Ia masih menitipkan uangnya itu pada Bapak Pendeta.

Thomas, selalu saja ingin tahu. Akhirnya dia tahu pula di mana bosnya mengambil barang dagangan. Ternyata dalam perhitungannya, bosnya itu memperoleh keuntungan besar sekali. Padahal kerjanya cuma begitu-begitu saja; menampung barang-barang, menunggu pedagang-pedagang kecil datang sambil menaruh uang jaminan, dan tiap hari menerima pembayaran sambil menghitung-hitung keuntungan. Thomas mengeti, bosnya bisa begitu karena punya modal uang yang cukup besar. Bukan Thomas namanya kalau tidak selalu bergerak maju.

Dengan penuh percaya diri, ia temui bos yang lebih tinggi lagi. “Bagaimana kalau semua dagangan ini saya beli, dan selanjutnya Anda hanya menjual kepada saya?” kata Thomas tanpa ragu-ragu sedikit pun. “Kalau Anda memang siap uang, boleh saja. Mari saya tunjukkan data barang dan harganya.” “Boleh, saya akan segera membayarnya.” “Jadi betul Anda siap dengan uangnya?” “Tetapi saya tidak membawanya, sebab uang itu saya titipkan pada Bapak Pendeta. Nanti kita bersama-sama menghadap beliau,” jelas Thomas.

Jawaban Thomas itu menyenangkan bos tersebut. Ia merasa mendapat jaminan tambahan bekerja sama dengan Thomas. Namun terus terang masih ada keragu-raguan juga. Jangan-jangan Thomas cuma membual. Oleh karena itu justru ia merasa tak sabar, ingin segera membuktikannya. Mereka berdua menghadap Bapak Pendeta. Ternyata Thomas berkata yang sesungguhnya. Bos tersebut senang bekerja sama dengan Thomas. Maklumlah, pergaulannya makin luas dan makin tinggi pula.

Teman-teman baru Thomas pun kian banyak dari kalangan manajer dan direktur, serta tokoh-tokoh masyarakat. Hubungan mereka baik. Begitu pula dengan pejabat-pejabat pemerintah setempat, ia menjalin hubungan yang baik. Kini hubungan pergaulannya benar-benar sangat luas. Thomas berencana mendirikan pabrik panci. Sambutan dari berbagai pihak sangat membesarkan harapannya. Beberapa direktur dan manajer berpengalaman pun siap bergabung.

Thomas menjadi pemegang saham mayoritas. Tukang kebun gereja sedesanya, oleh Thomas diberi sejumlah saham yang sangat kecil sekali namun tentu sangat berarti bagi sebuah tanda persahabatan yang sejati. Mereka berkumpul di kantor notaris untuk menandatangani akte pendirian perusahaan (pabrik panci). Notaris mempersilahkan Thomas sebagai pemegang saham mayoritas untuk membubuhkan tandatangan paling dulu. Tetapi Thomas menolak dengan alasan, justru pemegang saham mayoritas sebaiknya paling akhir.

Setelah semua membubuhkan tandatangan, giliran Thomas. Namun notaris jadi terperangah karena Thomas hanya membubuhkan tanda “silang miring” (X), tidak lebih dan tidak kurang. Notaris berkali-kali menanyakan pada Thomas, apakah betul itu tandatangannya? Namun berkali-kali pula Thomas membenarkannya. Notaris mengernyitkan dahi tanda ia masih merasa sangsi. Lalu sekretaris Thomas membisikkan pada notaris bahwa sesungguhnya bosnya itu buta huruf. Notaris pun memahami dan menyatakan tandatangan tersebut “sah”.

SAAT PERESMIAN PABRIK SANGAT MERIAH. Tamu undangan dari berbagai lapisan masyarakat hadir dalam acara tersebut. Para pejabat sipil dan militer, para pengusaha, pedagang pasar teman-teman lama Thomas, orang-orang yang memberi makan Thomas selama dalam perjalanan dari desa ke kota, beberapa pemilik dan manajer toko, beberapa orang bekas bosnya, para pemegang saham, notaris, Bapak Pendeta, dan tak ketinggalan tukang kebun gereja teman sedesanya yang tetap setia mengabdi sebagai pesuruh dan tukang kebun.

Pak Notaris merasa terharu bercampur bangga melihat ada seorang buta huruf berhasil menjadi bos besar. Notaris memberitahukan pada Pak Walikota bahwa Thomas adalah seorang buta huruf. Walikota senang memperoleh informasi itu, sebagai salah satu bahan penting dalam memberikan sambutan peresmian.

Walikota sangat memuji kehebatan Thomas. “Kita semua pantas merasa bangga karena ternyata Bapak Thomas adalah seorang buta huruf,” kata Walikota dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan gemuruh. “Buta huruf saja bias mendirikan pabrik begitu besar. Apalagi bila seandainya Pak Thomas tidak buta huruf niscaya akan lebih hebat lagi,” sambung Walikota, dan hadirin kembali bertepuk tangan gemuruh. Para tamu saling berkomentar, semua mengakui kehebatan Thomas dan menyatakan kekagumannya.

Contact person: 
Sms/WA: 081808081555 
email: ambaldydjuardi@gmail.com 

GILIRAN THOMAS MENYAMPAIKAN SAMBUTANNYA. Setelah ia sampaikan visi dan misinya mendirikan pabrik panci, Thomas langsung merespon sambutan Walikota yang tadi, dengan mengungkapkan sekilas perjalanan hidupnya. Dikisahkannya bagaimana ia dicegah oleh ayah dan ibunya untuk pergi ke kota. Namun kemudian ia nekad setelah memberikan jaminan kepada kedua orangtuanya bahwa Thomas akan dengan baik-baik membawa diri. 

Semua hadirin terdiam dan dengan tajam memperhatikan Thomas yang berkisah tentang perjalanan hidupnya. Ia tunjuk seorang wanita muda yang datang bersama ibu dan suaminya, dan dia katakana bahwa merekalah yang pertama kali memberi makan ketika Thomas merasa lapar di perjalanan saat ia berangkat dari desa ke kota dengan berjalan kaki.

Ya, ia dengan jelas menunjuk saksi-saksi hidup yang banyak hadir di situ. Manajer-manajer toko yang menolaknya bekerja karena Thomas buta huruf dan lain-lain, termasuk sahabatnya tukang kebun gereja, sehingga memperkuat kebenaran ceritanya.

“Oleh karena itu bapak ibu saudara sekalian yang saya hormati… Terus terang saya berpikir, seandainya saya tidak buta huruf, jangan-jangan sampai saat ini saya masih tetap menjadi tukang kebun seperti kawan saya itu,” kata Thomas sambil menunjuk si tukang kebun yang kelihatan tersenyum-senyum diantara tetamu. Dan kali ini tepuk tangan serta sambutan hadirin betul-betul sangat gegap gempita.